Walisongo dan Gunung Agung, Apa Kabarmu Kini?

Tahun 90-an bila jalan-jalan ke kawasan Kwitang Senen, pembaca akan menemukan di sana banyak lapak-lapak penjual buku bekas yang ramai disambangi oleh para pencari buku. Kalau tidak salah ingat, para pedagang buku bekas (dan buku bajakan) menggelar dagangannya dari sepanjang trotoar Gedung CTC hingga jalan Kwitang depan Toko Buku Gunung Agung. Suasana pasar buku loak itu bisa pembaca lihat saat menonton salah satu adegan di film Ada Apa Dengan Cinta (AADC).

Foto Pinjam dari travel.tribunnews.com


Bicara tentang toko buku, di kawasan Kwitang ini ada 2 buah toko buku yang dahulu sering saya kunjungi (selain lapak-lapak buku bekas di pinggir jalan tentunya). Nah, toko buku tersebut yaitu Toko Buku Gunung Agung dan Toko Buku Walisongo. Keduanya ada di jalan Kwitang No. 6 (38) dan jalan Kwitang No. 13.






Tanggal 26 Mei 2018 yang juga bertepatan dengan bulan Ramadhan, saya dan keluarga menyempatkan diri mampir ke 2 toko buku tersebut. Toko buku pertama yang kami kunjungi adalah Toko Buku Walisongo. Toko dengan ornamen cat dominan hijau ini memang toko buku khas yang menjual dan menawarkan komoditi dagang buku agama Islam. Seingat saya di era 90-an, toko buku ini merupakan salah satu toko buku terlengkap yang pernah saya datangi yang menjual toko buku agama Islam. Mulai dari kitab kuning tradisional hingga buku komik sejarah Islam ada di sini. Terdiri dari 3 lantai, selain menawarkan buku, toko buku ini juga menjual pakaian, perlengkapan haji/umroh, kaset/vcd/dvd, obat-obatan herbal, hiasan dinding, dan pernak-pernik islami lainnya. Setiap minggunya, banyak pengunjung yang biasanya sih rombongan sekeluarga yang mendatangi Toko Buku Walisongo ini. Hampir setiap minggu pula ada acara entah kajian bedah buku maupun pengajian yang diselenggarakan oleh pihak toko buku karena bangunan toko buku ini merupakan bagian dari Masjid Agung Al A'raaf. 

Itu keadaan Toko Buku Walisongo di tahun 90-an. Keadaan sekarang ketika saya ke sana sangat berbeda. Halaman masjid yang dahulu digunakan untuk pengunjung yang ingin duduk sekedar melepas lelah, kini sebagian berubah fungsi sebagai parkiran motor! Masuk ke dalam toko pun keadaan begitu banyak berubah. Kini hanya lantai 1 saja yang digunakan untuk menggelar etalase buku, pakaian, dan sekaligus pernak-pernik lainnya. Saat saya berkeliling, buku-buku seperti kitab kuning dan buku dengan tema perbandingan agama juga sudah tidak ada. Buku yang tertinggal sebagai jualannya toko buku ini hanya buku--buku seperti buku iqra, buku bacaan anak, bimbingan agama, dan lain-lainnya yang bisa kita temukan juga di toko buku biasa. Jumlah pengunjungnya juga tidak sebanyak dahulu. Kajian dan pengajian juga sudah tidak ada. 

Puas berkeliling di dalam Toko Buku Walisongo (karena cuma 1 lantai), kami pun beranjak pindah tempat mengunjungi Toko Buku Gunung Agung di jalan Kwitang 38 yang jaraknya kira-kira 200 meter dari Toko Buku Walisongo ke arah Tugu Tani. Letak Toko Buku Gunung Agung persis berada di seberang Graha Marinir.









Tiba di Toko Buku Gunung Agung sekitar pukul 2 siang dan kami harus memarkir kendaraan yang kami tunggangi di trotoar depan gedung toko. Sejak dulu memang toko buku ini setahu saya bekerja sama dengan warga sekitar untuk saling bantu. Pihak toko menjual buku, sedangkan warga sekitar bisa mendapatkan penghasilan dari usaha parkir motor.

Masuk ke dalam toko, kami disambut oleh etalase-etalase peralatan kantor dan perlengkapan komputer di lantai 1. Melihat-lihat sebentar, kemudian kami naik ke lantai 2 yang memamerkan perlengkapan sekolah dan alat tulis khusus belajar mengajar. Kami membeli beberapa alat tulis di sini untuk kemudian naik lagi ke lantai 3. Semua buku bacaan berada di lantai 3. Selain buku bacaan ada juga pakaian  dan perlengkapan haji serta obat-obatan herbal. Keadaannya tidak banyak berubah sih menurut saya. Hanya saja pada era 90-an, terdapat satu "lapak" khusus namanya Konter Haji Mas Agung yang sekarang sudah tidak ada.

Enaknya di Toko Buku Gunung Agung nomor 38 ini adalah disediakannya kursi-kursi panjang dari kayu yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk duduk istirahat. Ya kan tidak semua pengunjung tahan untuk berlama-lama berdiri apalagi yang sudah berumur seperti saya. Untuk buku-buku di lantai 3, kalau menurut saya sih terbilang lengkap. Karena saya penggemar budaya, saya cek buku-buku di rak tema budaya. Banyak buku yang saya lihat tidak ada di toko buku lain seperti toko buku yang punya logo warna biru-merah-putih yang menggurita itu. Bila ke Toko Buku Gunung Agung 38 ini dari lantai 3-nya kita juga bisa melihat seberang jalan hilir-mudik kendaraan yang lumayan bisa jadi hiburan juga bagi anak-anak, khususnya anak saya. Hehehe.

Di sela-sela melihat-lihat buku, saya sempat berpikir. Kira-kira sampai berapa lama toko buku-toko buku yang dulu permah menjadi primadona di jamannya akan bertahan? Suatu ketika saat lewat di jalan Kwitang, saya lihat Toko Buku Gunung Agung yang ada di jalan Kwitang Nomor 6 sudah tutup dan sudah menjadi satu dengan Toko Gunung Agung 38. Bila melihat toko buku berinisal G, sungguh sangat kontras dengan Toko Buku Walisongo dan Gunung Agung. Jaman berubah dan persaingan semakin membuat gerah.

Comments