Sendirian Menjelajah Jalan Ahmad Yani, Jayapura

Malam itu disudut jalan Ahmad Yani masih ramai hilir-mudik penduduk dan kendaraan. Mungkin karena ini bulan Desember dan sebentar lagi libur nasional, jam segini (20.00 waktu setempat) di Jayapura masih terlihat banyak aktivitas. Jalan-jalan di malam hari tanggal 12 Desember 2011 pun saya lakukan sendirian. Karena rekan-rekan saya semuanya ibu-ibu, yang mungkin lebih memilih istirahat di kamar daripada jalan-jalan malam setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta ke Jayapura.
Jalan Malam di Jayapura

Satu yang sedari awal kedatangan ke Jayapura ini saya perhatikan: tidak ada pengemis dan pengamen! Sejak tiba di bandara Sentani, yang terbilang bandara kecil dan orang umumnya dapat hilir-mudik didepan bandaranya hingga tiba di kota Jayapura sepanjang jalan Ahmad Yani, tidak satu pun pengemis dan pengamen terlihat. Usut punya usut ternyata di Jayapura sini, orang-orang asli Papua memiliki rasa "gengsi" yang tinggi. Sehingga pantang buat mereka untuk mengemis ataupun bekerja sebagai pengamen. Paling banter ya mereka menjual barang kerajinan seperti tas anyaman.
Penduduk Asli Banyak Menjajakan Hasil Anyaman di Pinggir Jalan
Oleh karena penduduk asli Papua tidak ada yang menjadi pengemis dan pengamen otomatis para pendatang pun tidak ada yang bekerja sebagai pengemis dan pengamen. Ini patut kita contoh.
Muka Pusat Perbelanjaan Ampera
Iseng-iseng saya menyisir sepanjang jalan Ahmad Yani hingga tiba di Pusat Perbelanjaan Ampera. Ini adalah salah satu (kalau menurut saya) pasar tradisional di Jayapura. Oh seperti ini suasana malam di Jayapura. Ada yang beda memang. Disini tidak ada penjual sate pinggir jalan seperti halnya di daerah Salatiga. Yang banyak bertebaran di pinggir jalan adalah penjual pinang dan sirih. Dengan mudah kita bisa menemukan disini. Setiap dua meter ada lapak penjual pinang. Ya mungkin karena penduduk asli Papua masih menjalankan tradisi kunyah pinang sehingga pinang dan sirih merupakan komoditas paling banyak di Jayapura sini. Dan jangan heran bila sedang jalan-jalan, kita bakal banyak menemukan jejak-jejak merah bekas ludah penduduk lokal yang mengunyah pinang.
Buah Pinang
Malam pun berlanjut larut ditengah hiruk-pikuk para pejalan kaki di pasar Ampera. Tak terasa rasa kantuk menghinggapi kelopak mata saya. Meski terlihat ramai, tapi yang saya rasakan di Jayapura ini suasananya sepi. Penjelajahan masih akan berlanjut esok hari...


Comments

  1. harga makan di Jayapura gimana Ma Feb?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bakso spesial paling mahal harga 15 ribu dan segelas es teh dihargai 4 ribu mas. Itu info harga tahun 2013. Mungkin tahun 2015 sudah tambah mihil mas.

      Delete

Post a Comment

...